Jumat, 06 April 2018

Si Guru Bijak dengan Sebuah Toplesnya

Guru Bijak dengan MS72 Toplesnya


Seorang guru bijak yang sangat dicintai oleh murid – muridnya. Muridnya cukup banyak dan yang datang pun sebagian besar dari tempat jauh, Mereka berbondong – bondong datang untuk mendengarkan nasihat yang sering keluar dari ucapan guru bijak tersebut. Mereka datang  dan duduk dengan rapi, menunjukkan mereka siap untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan atau disampaikan oleh sang guru.

Sang guru akhirnya datang, lalu beliau duduk di depan murid – muridnya. Dia datang dengan membawa sebuah toples yang cukup besar, dan disampingnya terdapat beberapa tumpuk  batu kerikil hitam yang memiliki ukuran segenggaman tangan. Tanpa bicara sedikit pun, Guru itu mengambil batu – batu itu dan kemudian satu persatu batu  kerikil tersebut di masukkan dengan hati-hati ke dalam sebuah toples kaca yang ia bawa.

Ketika toples itu sudah penuh dengan batu kerikil yang dimasukkan oleh sang guru tersebut, kemudian beliau berbalik dan menghadap ke murid – muridnya dan langsung bertanya.

“Apakah toples ini sudah penuh?”

Semua murid – muridnya menjawab,

“Iya pak, Benar, toples itu sekarang sudah penuh”.

Tanpa berkata apapun, sang guru lalu memulai memasukkan kembali batu kerikil bulat yang berwarna merah dan memiliki ukuran lebih kecil dari batu sebelumnya ke dalam toples tersebut. Karena kerikil itu lebih kecil sehingga dapat masuk dan jatuh pada sela – sela batu hitam besar yang dimasukkan lebih awal. Setelah semua kerikil itu sudah masuk kedalam toples, sang guru kembali bertanya kembali.

“Apakah toples ini sudah penuh?”

Serentak murid – muridnya menjawab kembali,

“Iya pak, toples itu sekarang sudah penuh”.

Masih tanpa berkata apapun, kini sang guru  itu mengambil satu wadah pasir yang halus, kemudian beliau memasukkan pasir halus tersebut ke dalam toples. Tentu dengan mudah pasir halus tersebut masuk memenuhi ruangan kosong dari kerikil merah dan juga batu hitam. Setelah pasir halus itu semuanya masuk, sang guru bertanya lagi ke para muridnya.

“Apakah toples ini sudah penuh?”

Awalny ragu, karena muridnya merasa akan sia-sia kalau mereka menjawab karena sang guru belum memberikan maksud apa yang dilakukan oleh guru itu. Akan tetapi karena mereka lihat bahwa pasir halus tersebut jelas sudah memenuhi sela – sela dari kerikil dan batu yag sudah dimasukkan ke dalam toples, membuatnya sudah terlihat tampak penuh. Walaupun agak sedikit ragu beberapa dari murid itu ada yang mengangguk dan menjawab,

“Iya guru, toples itu memang sudah penuh”.

Ternyata tetap tanpa berkata apapun lagi, Sang guru kembali berbalik, kali ini dia mengambil sebuah baskom yang berisi air, Kemudian sang guru itu menuangkan air dengan hati – hati ke dalam toples besar yang sudah terisi oleh batu hitam, krikil dan juga pasir tadi. Dan ketika air sudah mencapai di bibir toples,Sang guru kembali bertanya

“Apakah toplesnya sudah penuh?”

Saat itu kebanyakan para murid lebih memilih untuk diam, akan tetapi ada dua sampai tiga orang yang memberanikan diri untuk menjawab sang guru,

“Iya guru” jawab sedikit murid tersebut.

Ternyata tetap sang guru masih belum berkata apapun, malah guru itu mengambil satu kantong yang berisi garam halus. Kemudian beliau menaburkan sedikit demi sedikit garam –garam itu diatas permukaan air, dan garam halus itu pun sedikit demi sedikit larut, dituangkannya sekantong garam tersebut sampai habis dan garam – garam itu juga larut kedalam air. Sang guru kembali menghadap kepada murid-muridnya, dan kembali bertanya, “Apakah toplesnya tersebut sudah penuh?”

Saat itu semua murid berdiam diri tanpa ada yang menjawab. Hingga akhirnya ada seorang murid yang memberanikan diri untuk menjawab.

“Iya guru, toples itu sekarang sudah penuh”.

Sang guru akhirnya menjawab, “Iya benar, toples ini sekarang sudah penuh”.
Beliau kemudian melanjutkan ucapannya,

“Sebuah cerita selalu memiliki banyak makna, dan setiap dari kalian telah memahami banyak hal dari demonstrasi ini. Diskusikan dengan tenang sesama kalian, apa pelajaran yang kalian dapat. Berapa banyak pelajaran berbeda yang dapat kalian temukan dan kalian ambil dari sebuah cerita.”

Murid-murid itu kemudian memandang sang guru, dan juga memandang toples yang sekarang sudah berisi penuh dan juga memiliki berbagai warna, ada warna hitam, merah, ada juga pasir, air, dan juga garam. Kemudian dengan berbisik mereka saling berdiskusi dengan para murid lainnya. Kemudian setelah beberapa menit sang guru lalu mengangkat tangannya, dan seluruh ruangan pun terdiam. Beliau lalu berkata,

“Ingatlah bahwa tidak pernah ada hanya satu interpretasi dari segalanya. Kalian sudah mengambil semua hikmah dan juga pesan dari cerita, dan setiap hikmah, sama pentingnya dengan yang lain”

Setelah berkata seperti itu kemudian tanpa banyak bicara, guru bijak itu bangkit dan meninggalkan ruangan itu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar