Senin, 23 April 2018

Merawat Kecerdasan




Sudah sejak lama mayoritas manusia yang terlanjur sangat percaya penuh terhadap hasil dari tes IQ, hingga tes IQ menjadi salah satu acuan penting ketika seleksi penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah favorit dan unggul. Bahkan, ada beberapa orang tua yang rela membayar mahal kepada lembaga tertentu demi hasil tes IQ anaknya agar dapat mencapai skor tertentu (sesuai yang menjadi persyaratan sekolah yang akan dibidik), sehingga anak-anak mereka bisa diterima di sekolah  yang sekali lagi bisa dianggap sebagai sekolah yang favorit atau unggul tersebut.

Tapi, kalau kita melihat kenyataannya di lapangan, ada beberapa orang yang memiliki skor IQ tinggi, namun belum  bisa menjalankan kehidupannya dengan sukses dan bahagia. Mereka memang  memiliki skor IQ tinggi, namun sering berkonflik dengan orang lain, tidak dapat bekerjasama dengan orang lain, dan parahnya emosinya sering  tidak stabil dan sering marah.

Pada akhirnya, orang tersebut cenderung lebih sering akan mengalami kegagalan dalam mengarungi kehidupannya.

Pada sisi yang lain, ada beberapa orang yang memiliki IQ rendah, tetapi karena didukung dengan sifat ketekunan, keuletan, emosi yang stabil, dan memiliki sikap percaya diri yang tinggi serta selalu memiliki rasa optimis, maka dengan mudahnya ia menjalani kehidupannya sehari-hari dengan sukses dan bahagia. Jika demikian, lalu dimana atau bagaimana sebenarnya posisi nilai IQ dalam menentukan kesuksesan hidup seseorang?

Jika kita mau merenungkan, seandainya ada tiga siswa yang memiliki tingkat IQ yang sama, mereka sama-sama rajin, dan di didik dengan cara yang sama oleh seorang pengajar, maka sangat dimungkinkan ketiganya akan menghasilkan nilai matematika yang berbeda. Di sekolah, siswa yang menyandang peringkat teratas, biasanya didominasi oleh siswa yang rajin belajar, memiliki IQ tinggi, nilai akademiknya tinggi, dan biasanya mahir di bidang bahasa dan matematika.

Sementara, siswa yang senang berolahraga, memasak, melukis, memainkan musik dan melakukan pentas teater, dan sebagainya, meskipun pernah menjadi juara pada perlombaan, pihak sekolah jarang, bahkan tidak memberikan apresiasi penghargaan yang sepantasnya. Mereka tidak dilihat sebagai siswa yang cerdas, namun lebih dilihat sebagai siswa yang memiliki bakat di bidang yang digemari.

Dalam bukunya, Armstrong (1999 : 2) memberikan contoh sehingga diperoleh gambaran tentang kecerdasan. “Jika mobil Anda mogok di tengah jalan, siapakah orang yang paling tepat untuk mengatasi keadaan tersebut? Apakah seseorang yang bergelar doktor dari universitas terkemuka ataukah montir mobil yang berpendidikan SMP? Kalau Anda tersesat di sebuah kota besar, siapakah yang akan sangat membantu Anda? Seorang profesor ataukah anak kecil yang mempunyai kemampuan mengenal arah? Kecerdasan, pada dasarnya bergantung pada konteks, bagaimana kita dapat menyelesaikan suatu problem yang terjadi dalam kehidupan. Jadi, kecerdasan bukan hanya tergantung tingginya IQ, deretan gelar dari perguruan tinggi, atau nilai ujian di sekolah.

Terkait hal di atas, Gardner (1993) mendefinisikan kecerdasan sebagai berikut: Kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah yang terjadi di kehidupan nyata; kemampuan untuk menghasilkan masalah baru untuk segera dipecahkan; dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan suatu pelayanan yang berharga dalam budaya di suatu masyarakat.

Berpijak pada definisi kecerdasan menurut Howard Gardner di atas, menjadikan kita semakin sadar, bahwa setiap individu adalah cerdas, tidak ada individu yang bodoh. Cerdas yang dimaksud bukan cerdas di segala bidang, melainkan cerdas di bidangnya masing-masing. Seperti si Amin yang memiliki kecenderungan kecerdasan di bidang musical dan spasial.

Dalam praktik di kehidupan nyata, hampir semua kegiatan yang dilakukan individu memerlukan kombinasi dari beberapa kecerdasan. Misalnya, untuk dapat menjadi seorang wartawan yang baik, seseorang perlu memiliki kecerdasan linguistik, logis-matematis, dan intrapersonal yang tinggi. Untuk menjadi seorang Arsitek, seseorang perlu memiliki kecerdasan visual-spasial, logis-matematis, kinestetik, dan interpersonal yang tinggi.

Bahkan untuk dapat menjadi seorang guru yang berhasil, tentu harus bisa mengombinasikan semua jenis kecerdasan dalam multiple intellegence selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini akan dapat memudahkan siswa dalam menerima informasi yang disampaikan oleh guru.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar