Sudah sejak lama mayoritas manusia yang terlanjur sangat percaya penuh terhadap hasil dari tes IQ,
hingga tes IQ menjadi salah satu acuan penting ketika seleksi
penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah favorit dan unggul. Bahkan, ada beberapa
orang tua yang rela membayar mahal kepada lembaga tertentu demi hasil tes IQ anaknya agar dapat mencapai skor tertentu (sesuai yang menjadi persyaratan sekolah yang akan dibidik), sehingga anak-anak mereka bisa diterima di sekolah yang sekali lagi bisa dianggap sebagai sekolah yang favorit
atau unggul tersebut.
Tapi, kalau kita melihat kenyataannya di lapangan, ada
beberapa orang yang memiliki skor IQ tinggi, namun belum bisa menjalankan kehidupannya dengan sukses
dan bahagia. Mereka memang memiliki skor IQ tinggi, namun sering berkonflik dengan orang lain, tidak
dapat bekerjasama dengan orang lain, dan parahnya emosinya sering tidak
stabil dan sering marah.
Pada akhirnya, orang tersebut cenderung lebih sering akan
mengalami kegagalan dalam mengarungi kehidupannya.
Pada sisi yang lain, ada beberapa orang yang memiliki IQ
rendah, tetapi karena didukung dengan sifat ketekunan, keuletan, emosi yang
stabil, dan memiliki sikap percaya diri yang tinggi serta selalu memiliki rasa
optimis, maka dengan mudahnya ia menjalani kehidupannya sehari-hari dengan
sukses dan bahagia. Jika demikian, lalu dimana atau bagaimana sebenarnya posisi nilai IQ dalam menentukan kesuksesan hidup
seseorang?
Jika kita mau merenungkan, seandainya ada tiga siswa yang
memiliki tingkat IQ yang sama, mereka sama-sama rajin, dan di didik dengan cara
yang sama oleh seorang pengajar, maka sangat dimungkinkan ketiganya akan
menghasilkan nilai matematika yang berbeda. Di sekolah, siswa yang menyandang peringkat
teratas, biasanya didominasi oleh siswa yang rajin belajar, memiliki IQ tinggi,
nilai akademiknya tinggi, dan biasanya mahir di bidang bahasa dan matematika.
Sementara,
siswa yang senang berolahraga, memasak, melukis, memainkan musik dan melakukan
pentas teater, dan sebagainya, meskipun pernah menjadi juara pada perlombaan,
pihak sekolah jarang, bahkan tidak memberikan apresiasi penghargaan yang
sepantasnya. Mereka tidak dilihat sebagai siswa yang cerdas, namun lebih
dilihat sebagai siswa yang memiliki bakat di bidang yang digemari.
Dalam
bukunya, Armstrong (1999 : 2) memberikan contoh sehingga diperoleh
gambaran tentang kecerdasan. “Jika mobil Anda mogok di tengah jalan, siapakah
orang yang paling tepat untuk mengatasi keadaan tersebut? Apakah seseorang yang
bergelar doktor dari universitas terkemuka ataukah montir mobil yang
berpendidikan SMP? Kalau Anda tersesat di sebuah kota besar, siapakah yang akan
sangat membantu Anda? Seorang profesor ataukah anak kecil yang mempunyai
kemampuan mengenal arah? Kecerdasan, pada dasarnya bergantung pada konteks,
bagaimana kita dapat menyelesaikan suatu problem yang terjadi dalam kehidupan.
Jadi, kecerdasan bukan hanya tergantung tingginya IQ, deretan gelar dari
perguruan tinggi, atau nilai ujian di sekolah.
Terkait hal di atas, Gardner (1993) mendefinisikan
kecerdasan sebagai berikut: Kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah yang
terjadi di kehidupan nyata; kemampuan untuk menghasilkan masalah baru untuk segera
dipecahkan; dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan suatu
pelayanan yang berharga dalam budaya di suatu masyarakat.
Berpijak
pada definisi kecerdasan menurut Howard Gardner di atas, menjadikan kita
semakin sadar, bahwa setiap individu adalah cerdas, tidak ada individu yang
bodoh. Cerdas yang dimaksud bukan cerdas di segala bidang, melainkan cerdas di
bidangnya masing-masing. Seperti si Amin yang memiliki kecenderungan kecerdasan
di bidang musical dan spasial.
Dalam
praktik di kehidupan nyata, hampir semua kegiatan yang
dilakukan individu memerlukan kombinasi dari beberapa kecerdasan. Misalnya,
untuk dapat menjadi seorang wartawan yang baik, seseorang perlu memiliki
kecerdasan linguistik, logis-matematis, dan intrapersonal yang tinggi. Untuk
menjadi seorang Arsitek, seseorang perlu memiliki kecerdasan visual-spasial,
logis-matematis, kinestetik, dan interpersonal yang tinggi.
Bahkan
untuk dapat menjadi seorang guru yang berhasil, tentu harus bisa mengombinasikan semua jenis kecerdasan dalam
multiple intellegence selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini akan
dapat memudahkan siswa dalam menerima informasi yang disampaikan oleh guru.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar